Tuesday, April 23, 2013

Kenali Tanda Gangguan Mental Sejak Dini: Berpotensikah Jadi Psikopat?

Pembunuh berantai tak hanya ada di film-film. Di dunia nyata pun pembunuh berantai sebenarnya ada. Keberadaannya tentu meresahkan masyarakat karena orang bisa sangat berbahaya. Benarkah ciri-ciri pembunuh berantai diketahui sejak masih kanak-kanak?

Ada sebuah teori yang disebut dengan Macdonald Triad. Teori ini menyatakan bahwa ada 3 perilaku umum selama masa kanak-kanak yang dapat menjadi petunjuk seorang anak rentan menjadi pembunuh, yaitu: mengompol setelah usianya melewati 5 tahun, kejam terhadap binatang dan suka bermain api.

Teori Macdonald Triad dikemukakan oleh psikiater forensik bernama JM Macdonald pada tahun 1963. Dalam tulisannya yang berjudul "The Thrat to Kill", Macdonald mengamati perilaku yang sering terlihat pada pasien yang sangat agresif dan sadis.

Macdonald mewawancarai 48 orang pasien psikotik dan membandingkannya dengan 52 pasien nonpsikotik yang pernah mengancam akan membunuh seseorang. Lebih dari setengah peserta penelitian adalah laki-laki berusia antara 11 - 83 tahun. Ia menemukan bahwa pasien sadis cenderung melakukan ketiga hal tersebut saat masih kanak-kanak.

Seperti dilansir Medical Daily, Selasa (16/10/2012), satuan Analisis Perilaku FBI sempat membuktikan kebenaran teori Macdonald pada tahun 1980-an sampai 1990-an. Peneliti mengumpulkan informasi dari 36 orang pembunuh, sebanyak 25 orang di antaranya adalah pembunuh berantai. Tetapi karena sampelnya terlalu kecil, penelitian ini dianggap kurang valid.

Beberapa agen lantas mengembangkan teori ini dan menemukan bahwa separuh sampel penelitian berasal dari rumah tangga single parent, tiga perempat di antaranya memiliki orang tua yang mengabaikan anaknya, tiga perempat peserta mengidap paraphilia atau perilaku seksual yang ekstrim dan pernah mengalami pelecehan seksual.

Sebagian peserta yang diwawancarai memiliki riwayat gangguan kejiwaan dengan IQ rata-rata normal sampai cerdas. Beberapa pelaku kekerasan memang suka bermain api, berlaku kejam terhadap hewan dan mengompol setelah usianya lewat 5 tahun. Tapi jarang ditemukan peserta yang memiliki ketiga perilaku ini sekaligus. Yang sering dimiliki adalah sifat suka mengabaikan perasaan orang lain.


Baru-baru ini, para peneliti mulai kembali mengulik kebenaran teori Macdonald Triad. Pada tahun 2010, Kori Ryan menerbitkan tesis yang mereview teori tersebut secara luas dan menemukan bahwa kecenderungan perilaku tersebut benar adanya. Ketiga perilaku tersebut dapat menjadi indikasi seorang anak kurang mampu mengatasi stres atau mengalami gangguan perkembangan.

Meskipun demikian, sebelum ditemukannya penelitian dengan data yang lebih baik untuk mendukung teori Macdonald, peneliti menyarankan sebaiknya jangan menyebut seorang anak rentan menjadi pembunuh sebab dapat mengganggu perkembangan mentalnya



Berikut ciri-ciri psikopati pada anak:
  • Sering berbohong. Jika ketahuan, ia tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya, bahkan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
  • Pandai melucu dan pintar bicara. Mereka menguasai pengetahuan di bidang seni, puisi, dan sastra. Pandai mengarang cerita yang membuatnya terkesan positif.
  • Impulsif dan sulit mengendalikan diri; emosi tinggi, tantrum, dan agresif. Mudah terpicu amarahnya oleh hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
  • Tidak memiliki respons fisiologis yang normal; seperti rasa takut yang ditandai tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar bila melakukan kesalahan.
  • Saat sedih dan gembira, ekspresinya tidak terlalu kelihatan.
  • Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah, sering menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
  • Senang melakukan pelanggaran dan peraturan keluarga atau sekolah.
  • Kurang empati terhadap perasaan keluarga dan teman sepermainan.
  • Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
  • Agresif, menantang nyali dan perkelahian, tidur larut malam, dan sering ke luar rumah.
  • Tidak mau bertanggungjawab, dan melakukan berbagai hal demi kesenangan belaka.
  • Persuasif dan memesona di permukaan.
  • Butuh stimulasi dan gampang bosan.
  • Memiliki IQ tinggi.

Faktor Genetik


Banyak penelitian menunjukkan, psikopati berkaitan dengan genetik, gangguan fungsi otak, dan lingkungan. Selain itu juga ada gangguan antisosial, asosial, dan amoral yang masuk dalam klasifikasi gangguan kepribadian dissosial.

Meski demikian, faktor penyebab pastinya hingga saat ini masih belum dapat diungkap jelas. Maka, tindak pencegahan optimal yang dapat dilakukan adalah sebatas mengenali faktor risiko sejak dini.
Langkah awal yang mungkin dilakukan, antara lain, melakukan deteksi dini faktor risiko dan gangguan perilaku pada anak. Karena faktor genetik adalah faktor yang diturunkan, maka faktor orangtua juga harus jadi perhatian. Artinya, jika salah satu orangtua menunjukkan gejala psikopat, maka anak akan berpotensi mengalami hal yang sama.

Pengamatan terhadap anak-anak dalam rentang usia 6–13 tahun bisa mulai dilakukan. Beberapa penyimpangan perilaku pada mereka, harus diketahui dan dikenali orangtua.
Sejumlah penelitian lain menyebutkan, faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Lingkungan tersebut bisa berupa fisik, biologis, dan sosial.

Faktor lingkungan fisik dan sosial yang berisiko mengembangkan seorang psikopat adalah perlakuan kasar dan keras sejak usia anak, penelantaran, perceraian orangtua, kesibukan orangtua, faktor pemberian nutrisi tertentu, serta kehidupan keluarga yang tidak mematuhi etika hukum, agama dan sosial.

Sedangkan lingkungan biologis menyangkut pola makan. Ternyata banyak faktor risiko juga terjadi pada penderita alergi dan intoleransi makanan. Belakangan terungkap, bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya; karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh anak, termasuk gangguan fungsi otak.

Akibat gangguan fungsi otak itulah, muncul gangguan pada perkembangan dan perilaku anak; seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, impulsivitas, hingga memperberat gejala autisma dan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder).

Seandainya pada anak terdapat faktor genetik dan beberapa perilaku tersebut, maka orangtua harus waspada. Pengobatan dan rehabilitasi psikopat saat ini baru dalam tahap kompleksitas pemahaman gejala. Terapi yang paling mungkin adalah tanpa obat, seperti konseling.

Namun, di atas segalanya, terapi terjitu tetap saja pada upaya kita membina keluarga yang harmonis. Sebaliknya, keluarga yang dibangun penuh kekerasan, anak yang ditolak orangtuanya dan diperlakukan kejam, adalah lingkungan yang memicu terbentuknya seorang "monster manusia". Jadi, waspadalah.

No comments:

Post a Comment